Jumat, 05 Oktober 2018

SEJARAH KOTA PALU

Asal usul nama

Istana Kerajaan Palu
Asal usul nama kota Palu adalah kata Topalu'e yang artinya Tanah yang terangkat karena daerah ini awalnya lautan, karena terjadi gempa dan pergeseran lempeng (palu koro) sehingga daerah yang tadinya lautan tersebut terangkat dan membentuk daratan lembah yang sekarang menjadi Kota Palu.
Istilah lain juga menyebutkan bahwa kata asal usul nama Kota Palu berasal dari bahasa kaili VOLO yang berarti bambu yang tumbuh dari daerah Tawaeli sampai di daerah sigi. Bambu sangat erat kaitannya dengan masyarakat suku Kaili, ini dikarenakan ketergantungan masyarakat Kaili dalam penggunaan bambu sebagai kebutuhan sehari-hari mereka. baik itu dijadikan Bahan makanan (Rebung), Bahan bangunan (Dinding, tikar, dll), Perlengkapan sehari hari, permainan (Tilako), serta alat musik (Lalove)

Pembentukan kota

Kota Palu sekarang ini adalah bermula dari kejaraan yang terdiri dari kesatuan empat kampung, yaitu: Besusu, Tanggabanggo yang sekarang bernama Kelurahan Kamonji, Panggovia yang sekarang bernama Kelurahan Lere, dan Boyantongo yang sekarang bernama Kelurahan Baru. Mereka membentuk satu Dewan Adat disebut Patanggota. Salah satu tugasnya adalah memilih raja dan para pembantunya yang erat hubungannya dengan kegiatan kerajaan. Kerajaan Palu lama-kelamaan menjadi salah satu kerajaan yang dikenal dan sangat berpengaruh. Itulah sebabnya Belanda mengadakan pendekatan terhadap Kerajaan Palu. Belanda pertama kali berkunjung ke Palu pada masa kepemimpinan Raja Maili (Mangge Risa) untuk mendapatkan perlindungan dari Manado pada tahun 1868. Pada tahun 1888, Gubernur Belanda untuk Sulawesi bersama dengan bala tentara dan beberapa kapal tiba di Kerajaan Palu, mereka pun menyerang Kayumalue. Setelah peristiwa perang Kayumalue, Raja Maili terbunuh oleh pihak Belanda dan jenazahnya dibawa ke Palu. Setelah itu ia digantikan oleh Raja Jodjokodi, pada tanggal 1 Mei 1888 Raja Jodjokodi menandatangani perjanjian pendek kepada Pemerintah Hindia Belanda.
Teluk Palu di sekitar tahun 1900
Pada awal mulanya, Kota Palu merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Palu. Pada masa penjajahan Belanda, Kerajaan Palu menjadi bagian dari wilayah kekuasaan (Onder Afdeling Palu) yang terdiri dari tiga wilayah yaitu Landschap Palu yang mencakup distrik Palu Timur, Palu Tengah, dan Palu Barat; Landschap Kulawi; dan Landschap Sigi Dolo.[3]
Pada tahun 1942, terjadi pengambilalihan kekuasaan dari Pemerintahan Belanda kepada pihak Jepang. Pada masa Perang Dunia II ini, kota Donggala yang kala itu merupakan ibukota Afdeling Donggala dihancurkan oleh pasukan Sekutu maupun Jepang. Hal ini mengakibatkan pusat pemerintahan dipindahkan ke kota Palu pada tahun 1950. Saat itu, kota Palu berkedudukan sebagai Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) setingkat wedana dan menjadi wilayah daerah Sulawesi Tengah yang berpusat di Kabupaten Poso sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950. Kota Palu kemudian mulai berkembang setelah dibentuknya Residen Koordinator Sulawesi Tengah Tahun 1957 yang menempatkan Kota Palu sebagai Ibukota Keresidenan.[3]
Terbentuknya Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964, status Kota Palu sebagai ibukota ditingkatkan menjadi Ibukota Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah. Kemudian pada tahun 1978, Kota Palu ditetapkan sebagai kota administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1978. Kini, berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1994 Kota Palu ditingkatkan statusnya menjadi Kotamadya Palu.[3]

Batas Wilayah

Secara geografis, Kota Palu berbatasan dengan daerah sebagai berikut:

Iklim dan Cuaca

Dataran Kota Palu dikelilingi oleh pegunungan dan pantai. Peta ketinggian mencatat, 376,68 Km2 (95,34%) wilayah Kota Palu berada pada ketinggian 100 - 500 mdpl dan hanya 18,38 Km2 (46,66%) terletak di dataran yang lebih rendah. Kota Palu terletak di bagian Utara khatulistiwa, menjadikan Kota Palu sebagai salah satu kota tropis terkering di Indonesia dengan curah hujan kurang dari 1.000 mm per tahun.[3]
[sembunyikan]Data iklim Palu
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rekor tertinggi °C (°F) 38
(100)
37
(99)
37
(99)
37
(99)
35
(95)
37
(99)
37
(99)
37
(99)
38
(100)
37
(99)
37
(99)
38
(100)
38
(100)
Rata-rata tertinggi °C (°F) 30
(86)
30
(86)
31
(88)
31
(88)
31
(88)
31
(88)
30
(86)
31
(88)
31
(88)
31
(88)
31
(88)
30
(86)
31
(88)
Rata-rata harian °C (°F) 27
(81)
27
(81)
27
(81)
28
(82)
28
(82)
27
(81)
27
(81)
27
(81)
27
(81)
28
(82)
28
(82)
27
(81)
27
(81)
Rata-rata terendah °C (°F) 24
(75)
24
(75)
24
(75)
25
(77)
25
(77)
24
(75)
24
(75)
24
(75)
24
(75)
25
(77)
25
(77)
25
(77)
24
(75)
Rekor terendah °C (°F) 22
(72)
21
(70)
18
(64)
20
(68)
21
(70)
21
(70)
21
(70)
20
(68)
20
(68)
17
(63)
21
(70)
21
(70)
17
(63)
Rata-rata hari hujan 7 8 9 9 10 12 11 9 8 7 9 7 106
Sumber: [4]

Geografi

Bentang alam Kota Palu membentang memanjang dari Timur ke Barat dengan luas wilayah 395,06 Km2. Secara astronomis, Kota Palu terletak pada posisi 119,45 - 121,15 BT dan 0,36 - 0,56 LS.

Jarak

Jarak antara ibukota provinsi ke daerah kabupaten:
No. Jarak Antara Kilometer
1 Palu - Poso 221 Km
2 Palu - Luwuk 607 Km
3 Palu - Toli-Toli 439 Km
4 Palu - Donggala 34 Km
5 Palu - Parigi Moutong 66 Km
6 Palu - Morowali 756 Km
7 Palu - Buol 806 Km
8 Palu - Tojo Una-una 300 Km

Pemerintahan

Kediaman controleur pada masa Hindia Belanda (tahun 1930-an)

Daftar Wali Kota

No Wali Kota Mulai Jabatan Akhir Jabatan Masa Wakil Wali Kota
Ket.
Wali Kota Administratif Palu
a
Kisman Abdullah
1978
1986
[5]
b
Sahbuddin Labadjo
1986
1994
Wali Kota Palu
1
Rully A. Lamadjido
1994
2000
1
(1994)
2
Baso Lamakarate
2000
2004
2
(2000)
Suardin Suebo
(2000–04)
[ket. 1]
3
Suardin Suebo
17 Mei 2004
12 Oktober 2005
[6]
4
Rusdi Mastura
12 Oktober 2005
12 Oktober 2010
3
(2005)
Suardin Suebo
(2005–08)
[7][8]
Andi Mulhanan
Tombolotutu
(2008–15)
12 Oktober 2010
12 Oktober 2015
4
(2010)
[9]
M. Hidayat Lamakarate
(Penjabat)
19 Oktober 2015
17 Februari 2016
[10][11]
5
Mayor of Palu Hidayat.png Hidayat
17 Februari 2016
Petahana
5
(2016)
Sigit Purnomo
Catatan
  1. ^ Meninggal dunia pada saat menjabat

Dewan Perwakilan

Kecamatan

Kota Palu dibagi kepada 8 kecamatan dan 45 kelurahan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah:

Demografi

Tahun 1990 2000 2010
Jumlah penduduk Green Arrow Up.svg 199.495 Green Arrow Up.svg 268.322 Green Arrow Up.svg 335.297
Sejarah kependudukan kota Palu
Sumber:[12]

Kondisi masyarakat

Masyarakat Kota Palu sangat heterogen. Penduduk yang menetap di kota ini berasal dari berbagai suku bangsa seperti Bugis, Toraja dan Mandar yang berasal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Gorontalo, Manado, Jawa, Arab, Tionghoa, dan Kaili yang merupakan suku asli dan terbesar di Sulawesi Tengah.[13]
Kota Palu sering diasosiasikan dengan kekerasan dan konflik. Padahal, masyarakat tidak terpengaruh oleh konflik atau bentrokan antarwarga. Bentrokan antarwarga di Kelurahan Nunu dan Kelurahan Tavanjuka yang sempat diberitakan di media massa tidak mempengaruhi aktivitas masyarakat. Warga tetap beraktivitas seperti biasa.[13]

Ekonomi

Kota Palu saat ini juga menjadi salah kawasan ekonomi khusus (KEK) di Indonesia bagian timur. Berbagai persiapan untuk ditetapkan Kota Palu sebagai kawasan ekonomi khusus telah dilakukan, penyiapan lahan seluas 1.520 hektare di Kecamatan Palu Utara, yang meliputi Kelurahan Pantoloan, Baiya, dan Lambara. Lahan seluas 1.520 hektare itu akan dibagi menjadi kawasan industri seluas 700 hektare, kawasan perumahan (500 hektare), kawasan pendidikan dan penelitian (100 hektare), kawasan komersial (100 hektare), daerah olahraga (50 hektare), kawasan pergudangan (50 hektare), kawasan perkebunan dan taman (20 hektare).[13]

Pariwisata

Jembatan Palu IV/Jembatan Ponulele, Palu Barat

Tempat Wisata

Danau Sibili

Danau Sibili, Pantoloan,Tawaeli
Danau Sibili merupakan danau alam yang terletak di Kelurahan Pantoloan Kecamatan Tawaeli, Kota Palu. danau ini merupakan salah satu objek wisata kebanggaan masyarakat tawaeli karena pemandangannya yang indah. Danau yang terletak 24 km di utara Kota Palu ini awalnya merupakan danau yang dijadikan tempat pemancingan ikan oleh masyarakat sekitar. Tetapi, karena seringnya pengunjung yang datang dari luar Kecamatan Tawaeli untuk datang berwisata akhirnya danau ini dijadikan salah satu objek wisata andalan di kecamatan tersebut.
Danau Sibili yang indah telah menjadi tempat wisata bagi masyarakat sekitar maupun dari luar kota Palu. Wisata yang menjadi andalan di sini adalah wisata Mancing dgn berbagai jenis varietas ikan seperti mas, bawal, mujair, gabus dll. Di pinggir danau, ada sarana yang dapat digunakan bagi Anda yang ingin menikmati keindahan danau, seperti perahu tradisional.

Banua Mbaso (Sou Raja)

Sou Raja, Palu Barat
Banua Mbaso atau Souraja adalah istana dari Kerajaan Palu pada masa sebelum kemerdekaan. Kata Souraja dapat diartikan rumah besar, merupakan rumah kediaman tidak resmi dari manggan atau raja beserta keluarga-keluarganya. Rumah orang biasa atau rakyat kebanyakan meskipun bentuk dan ukurannya sama dengan souraja.
Bangunan Souraja berbentuk rumah panggung yang ditopang sejumlah tiang kayu balok persegi empat dari kayu keras seperti kayu ulin, bayan, atau sejenisnya. Atapnya berbentuk piramide segitiga, bagian depan dan belakang atapnya ditutup dengan papan yang dihiasi dengan ukiran disebut panapiri dan pada ujung bubungan bagian depan dan belakang diletakkan mahkota berukir disebut bangko-bangko. Seluruh bahan bangunan mulai dari lantai, dinding balok-balok terbagi atas tiga ruangan, yaitu:
Ruang depan disebut lonta karawana yang dibiarkan kosong, berfungsi untuk menerima tamu. Dahulu sebelum ada meja kursi, di ruangan ini dibentangkan tikar atau onysa. Ruangan ini juga untuk tempat tidur tamu yang menginap.
Ruangan kedua adalah ruang tengah, disebut lonta tata ugana diperuntukkan bagi tamu keluarga serta lonta rorana yaitu ruang belakang, berfungsi sebagai ruang makan, tetapi kadang-kadang ruang makan berada di lonta tatangana. Antara dinding dan dibuat kamar-kamar tidur. Khusus untuk kamar tidur perempuan atau anak-anak gadis biasanya ditempatkan di pojok belakang lonta rarana, maksudnya agar mudah diawasi oleh orang tua. Untuk tamu perempuan dan para kenalan dekat diterima di ruang makan.
Ruang dapur, sumur dan jamban dibuatkan bangunan tambahan atau ruangan lain di bagian belakang rumah induk. Untuk menghubungkan rumah induk dengan dapur atau urang avu dibuatkan jembatan beratap disebut hambate atau bahasa bugis Jongke. Di bagian ini kadang-kadang dibuatkan pekuntu yakni ruangan terbuka untuk berangin-angin anggota keluarga. Di kolong dapur diberi pagar sekeliling, sedangkan di bawah rumah induk dibiarkan terbuka dan kadang-kadang menjadi ruang kerja untuk pertukangan, atau keperluan-keperluan lainnya. Sedangkan loteng rumah dipergunakan untuk mentimpan benda-benda pusaka dan lain-lain.
Secara keseluruhan, bangunan Souraja cukup unik dan arsitik lebih-lebih bila dilihat dari hiasannya berupa kaligrafi huruf Arab tertampang pada jelusi-jelusi pintu atau jendela, atau ukiran pada dinding, loteng, di bagian lonta-karavana, pinggira cucuran atap, papanini, bangko-bangko dengan motif bunga-bungaan dan daun-daunan. Semua hiasan tersebut melambangkan kesuburan, kemuliaan, keramah-tamahan dan kesejahteraan bagi penghuninya. 

Jembatan Gantung

Jembatan Gantung, Tatanga
Jembatan Gantung Merupakan jembatan penghubung dua kelurahan di Kecamatan Tatanga dan Kecamatan Palu selatan yang terpisah oleh sungai Palu. Jembatan ini adalah hasil dari kerjasama calon legislatif Pemilu 2004 dan pemerintah Kota Palu yang bertujuan menghubungkan keluarga yang telah lama terpisah.

Masjid 'Apung' Argam Bab Al Rahman

Masjid terapung, Palu Barat
Masjid ini memiliki luas 121 meter persegi dan mampu menampung sebanyak 150 orang. Masjid ini berlantai satu dengan empat menara di ke empat sudutnya. Masjid ini sering disebut masjid apung karena posisinya menjorok 30 meter ke laut yang seakan-akan mengapung. Panorama bentang pegunungan dan Teluk Palu menambah keindahan bagi para jamaah maupun wisatawan yang ingin menikmati wisata religi di Kota Palu.[14]

Kawasan Wisata Religi Sis Al Jufrie

Masjid Al Khairat, Palu Barat
Kawasan ini terletak di sepanjang Jalan Sis Aljufrie, Kelurahan Boyaoge, Kecamatan Tatanga dan Kelurahan Kamonji, Kecamatan Palu Barat. Dijalan ini terdapat berbagai macam objek wisata belanja dan objek wisata Religi. Objek wisata perbelanjaan yang ada disini aalah Pertokoan Palu Plaza. disini masyarakat kota palu menjual berbagai macam kuliner, Pakaian dan oleh - oleh. Objek wisata Religi dikawasan ini terletak didepan pertokoan Palu plaza, yaitu Yayasan AL Khairaat Pusat yang merupakan Organisasi Islam Terbesar di Indonesia Timur. Disana terdapat makam Idrus Bin Salim Al Jufrie (SIS AL JUFRIE) Pendiri AL Khairaat, Masjid AL Khairaat, Masjid Nurul Khairaat, Dan Masjid Nur Sa'adah, dan Beberapa Sekolah berbasis islam.

Museum Sulawesi Tengah

Museum Sulawesi Tangah, Palu Barat
Museum ini adalah museum terbesar di Sulawesi Tengah, terletak di Palu Barat. Di museum ini terdapat berbagai macam replika baju adat dari semua kabupaten dan kota yang ada di Sulawesi Tengah, sejarah mangenai Sulawesi Tengah dan lain lain. yang menarik dari museum ini adalah batu megalith berbentuk manusia yang dibuat oleh nenek moyang suku Kaili yang berasal dari Lembah Napu yang bentuknya hampir mirip dengan batu megalith berbentuk manusia di Pulau Paskah, Samudera Pasifik.

Taman Ria

Pantai Taman Ria, Palu Barat
Taman Ria merupakan objek wisata yang terletak di Kelurahan Lere, Palu Barat. Taman Ria sangat terkenal dengan pemandangan matahari terbenamnya yang indah. Apabila anda ke Taman Ria belum lengkap rasanya jika belum mencicipi jagung bakar, pisang gepe, dan saraba yang dijual oleh pedagang setempat.

Makanan Khas

Kaledo

Kaledo merupakan Sup Tulang Sapi yang dimasak hingga empuk. Kuahnya yang bening memiliki rasa bumbu yang kuat yang merupakan campuran berbagai bumbu seperti asam jawa, cabe rawit, dan garam. Kaledo disajikan beserta dengan Nasi atau Ubi. Kuahnya pun menyegarkan badan dengan rasa asam yang dominan dicampur rasa pedas cabe rawit.[15]

Uta Kelo/Sayur Kelor

Uta Kelo merupakan sayur yang berbahan dasar daun kelor. Kuahnya bersantan dan gurih terbuat dari campuran santan kelapa, daun kelor, dan biasanya dicampur dengan berbagai bahan seperti Palola Ngura/Terong Muda, Loka Ngura/Pisang Puda, Pusu/Jantung Pisang, Kasubi/Ubi, dan Lamale/Udang Kecil.

Duo Sole/Teri Goreng

Duo adalah makanan khas masyarakat kota palu. makanan yang berbahan dasar Teri ini mempunyai rasa asin, gurih, dan pedas karena masyarakat kaili sangat terkenal dengan masakan pedasnya. Duo terbuat dari teri yang dimasak bersama irisan bawang khas Palu.

Palu Mara/Sayur Ikan

Palu Mara atau biasa di sebut Sayur Ikan merupakan sayur yang berbahan dasar ikan. Kuahnya berwarna kuning karena campuran kunyit dan menggunakan asam jawa dengan sedikit cabe untuk rasa pedas.

Bau Ngau/Ikan Kering

Bau Ngau atau Ikan Kering adalah salah satu makanan khas di kota palu, berbahan dasar ikan yang di keringkan dan di sirami oleh air laut sehingga membuat rasanya asin. Bau Ngau biasa di sajikan dengan cara di goreng atau di bakar.

Transportasi

Transportasi Udara

Kota Palu mempunyai sebuah bandara nasional yang berada di dalam kota, yaitu Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie, terletak di Kecamatan Palu Selatan, Kelurahan birobuli Utara.

Transportasi Laut

Kota Palu juga mempunyai sebuah Pelabuhan Nasional yang juga berada di dalam wilayah kota, yaitu Pelabuhan Pantoloan, terletak di Kecamatan Tawaeli, Keluarahan Pantoloan.

Transportasi Darat

Jembatan di Palu pada tahun 1930-an
Transportasi darat di kota Palu meliputi transportasi tradisional dan modern.
Di kota Palu sedikitnya telah beroperasi 800 minibus angkutan kota (angkot) yang menjadi komuter utama di kota ini. Jumlah angkot di kota ini sering kali dianggap terlalu banyak mengingat kota ini hanya membutuhkan sekitar 500 angkot. Hal ini berarti terdapat 2 angkot untuk seorang komuter. Biaya Rp. 4.000,- untuk orang dewasa dan Rp. 3.000,- untuk pelajar. Uniknya, meskipun trayek angkot telah ditetapkan, setiap angkot dapat saja mengantar penumpang ke mana saja sepanjang sopir angkot berkenan. Satu hal lagi yang unik adalah angkot tersebut disebut sebagai "Taksi" oleh penduduk setempat. Warna angkot ini juga hanya 1, yaitu warna biru tua.
Moda bus hanya digunakan untuk transportasi dalam skala besar dan tidak bersifat publik di dalam kota. Moda ini digunakan untuk mengangkut penumpang antar kota dalam maupun lintas provinsi.
Taksi adalah komuter paling eksklusif di kota ini. Untuk menunjukkan perbedaan dengan 'taksi' angkot, maka penduduk setempat menggunakan kata "argo" (taksi argo) untuk menyebut komuter ini yang mengacu pada argometer yang melengkapi setiap taksi.
Ojeg adalah moda transportasi alternatif di kota ini. Sama seperti di kota-kota lainnya, ojeg merupakan 'taksi motor' yang selalu siap mengantar penumpang langsung ke tujuannya dengan tarif yang sesuai dengan jarak tempuh tujuannya. Bila di kota-kota lain para tukang ojeg menggunakan seragam, maka di kota ini Anda mungkin akan kesulitan untuk menemukannya karena tidak adanya baju seragam bagi para tukang ojek. Namun, Anda bisa menemukannya di sudut-sudut perempatan jalan atau mereka akan menawarkan jasanya langsung jika melewati Anda yang terlihat sedang menunggu di tepi jalan. Pertengahan tahun 2017 komunitas ojek palu diramaikan dengan kedatangan aplikasi ojek daring yaitu Grab
Moda transportasi tradisional ini masih dapat dijumpai di beberapa wilayah kota ini. Namun, wilayah peredarannya dibatasi agar tidak memasuki pusat kota dan hanya terbatas untuk mengangkut penumpang dan barang di sekitar lokasi pasar-pasar tradisional.

Kejadian Penting

Gempa 2005

Pada tanggal 24 Januari 2005 pukul 04.10 WITA, gempa berkekuatan 6,2 pada Skala Richter mengguncang Palu. Pusat gempa terjadi di Desa Bora Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, 16 km arah tenggara Palu tepatnya ,di kedalaman 30 km. Gempa itu berada pada 1°03′ LS - 119°99′ BT. Warga panik dan langsung mengungsi karena takut kemungkinan adanya tsunami seperti yang terjadi di Aceh. Sebagian dari mereka melarikan diri ke perbukitan dan pegunungan. Akibatnya, satu orang meninggal, empat orang cedera dan 177 bangunan rusak. Warga sekitar Biromaru Malah Mengungsi didekat tempat pusat gempa.

Gempa 2018

Pada tanggal 28 September 2018 pukul 18.02 WITA, gempa berkekuatan 7,4 Mw mengguncang daerah Donggala, Palu dan sekitarnya. Selain, korban jiwa, gempa dan tsunami di Donggala juga menyebabkan bangunan-bangunan rusak. Salah satunya Jembatan Kuning yang menjadi ikon kota Palu. Berikut informasi sementara terkait bangunan yang rusak:
  • Pusat perbelanjaan atau mal terbesar di kota Palu, Mal Tatura Jala Emy Saelan ambruk
  • Hotel Roa-Roa berlantai 8 di Jalan Pattimura rata dengan tanah. Di hotel terdapat 76 kamar dari 80 kamar yang terisi oleh tamu
  • Arena Festival Pesona Palu Nomoni yang terdapat puluhan hingga ratusan orang pengisi acara.
  • Rumah Sakit Anutapura yang berlantai empat di Jalan Kangkung, Palu roboh
  • Jembatan Kuning Ponulele roboh diterjang tsunami
  • Jalur trans Polo-Poso-Makassar tertutup longsor

Lihat pula

Referensi

  1. ^ "Kota Palu Dalam Angka 2016"
  2. ^ "Kota Palu Dalam Angka 2016"
  3. ^ a b c d Pemerintah Kota Palu. (2009). Palu Kota Dua Wajah. Palu: CACDS.
  4. ^ "Palu, Indonesia Travel Weather Averages". Weatherbase. Diakses tanggal 10 Februari 2016.
  5. ^ "6 Wajah Pemimpin Kota Palu". SeputarPalu. Palu. 7 Oktober 2014. Diakses tanggal 20 Februari 2016.
  6. ^ Syamsuddin (24 Mei 2004). "Suardin Suebo Resmi Jadi Wali kota Palu". Cybernews & Detik.com. Diakses tanggal 20 Februari 2016
  7. ^ ADO (9 Agustus 2005). "Rusdy Mastura Wali Kota Palu Periode 2005-2010". Liputan6.com. Diakses tanggal 20 Februari 2016.
  8. ^ "Ministers, Mayors and Participating City Leaders: HE Rusdy Mastura". World Cities Summit. Diakses tanggal 20 Februari 2016.
  9. ^ Tim Penyusun dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal Kota Palu (September 2014). Profil Kota Palu 2014 (PDF) (Laporan). Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal Kota Palu. Diakses tanggal 20 Februari 2016.
  10. ^ AFD (19 Oktober 2015). "Hidayat Lamakarate dilantik jadi Penjabat Wali Kota Palu". Berita Palu. Palu. Diakses tanggal 20 Februari 2016.
  11. ^ "Hidayat Lamakarate Penjabat Wali kota Palu". Pemerintah Kota Palu. Pemerintah Kota Palu. 16 November 2015. Diakses tanggal 20 Februari 2016.
  12. ^ palukota.bps.go.id Pertumbuhan dan Total Penduduk. Diakses pada 23 Januari 2012.
  13. ^ a b c Kompas.com. (27 Februari 2012). Palu Bisa Menjadi Pusat Budaya Sulawesi. Diakses pada 4 Juni 2014 11:21 dari http://oase.kompas.com/read/2012/02/27/16481582/Palu.Bisa.Menjadi.Pusat.Budaya.Sulawesi
  14. ^ Kompas.com. (19 Januari 2011). Palu Bakal Punya Masjid Terapung. Diakses pada 4 Juni 2014 11:47 dari http://regional.kompas.com/read/2011/01/19/20054943/Palu.Bakal.Punya.Masjid.Terapung
  15. ^ Kompas.com. (1 Januari 2014). Asam Pedas Kaledo Khas Palu. Diakses pada 4 Juni 2014 11:56 dari http://travel.kompas.com/read/2014/01/01/0928497/Asam.Pedas.Kaledo.Khas.Palu.
  16. Semua yang tertulis disini hasil copy-paste dari situs https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Palu 

Senin, 05 Februari 2018

KERAJAAN MORI

Kerajaan Mori merupakan suatu kerajaan yang terdapat di wilayahSulawesi Tengah dan diperintah pada suatu masa oleh seorang raja yang dikenal dengan sebutan ‘Mokole Marunduh’ (Datu’ri tana Mokole Marunduh) yang memimpin perlawanan terhadap Belanda
[1] . Menurut suatu naskah pembentukanNegara Indonesia Timur (NIT) kerajaan Mori termasuk dalam resort afdeling Poso dan Donggala yang membentuk Daerah Sulawesi Tengah
[2] .Moriadalah sebuah suku di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Indonesia. Wilayah otoritas suku ini adalah wilayah Kabupaten Morowali bagian utara. Beberapa nama kota dan kelurahan di wilayah suku mori adalah Kolonodale, Tomata, Ensa, Tompira, danlain-lain.
Agama asli suku ini adalah Kristen Protestan. Suku Mori mengikuti kebiasaan orang Eropa (sebagai penyebar agama Kristen) untuk mempunyai nama keluarga atau lebih dikenal sebagai marga atau fam.
Berikut beberapa marga suku mori :Mbatono Kale’e Marunduh Saripah Tagoe, Tampake
Kerajaan Tanah Mori dan Peperangan Raja Mori (Raja Marunduh) melawantentara BelandaSumber : Biro Infokom – Propinsi Sulawesi Tengah ( http://infokom-sulteng.go.id/ )
Dahulu kala, jauh sebelum Belanda masuk ke Tanah Mori, Tanah Mori terdiri dari berpuluh-puluh suku bangsa atau suku kecil yang tidak mempunyai raja tertentu. Tiap-tiap suku itu mempunyai Mokole tersendiri dan tiap-tiap Mokole tidak mautakluk satu sama lain (Mokole ialah organisasi pemerintahan dari satu suku yang dipimpin atau dikepalai oleh seorang kepala suku yang bergelar “Mokolempalui”.
Dari sekian banyak suku-suku di tanah Mori itu, ada beberapa suku yang dianggap besar pengaruhnya dan luas wilayahnya, yakni: Suku Moleta bagian Mori atas, Suku Petasia dan Suku Lembo bagian Mori bawah, Suku Murungkuni, Suku Tovatu, dan Suku Musimbatu. Oleh karena tidak ada raja yang mampu mempersatukan suku-suku atau Mokole-mokole itu, maka sering terjadi kekacauan dan selalu timbul peperangan antara satu Mokole dengan Mokole yang lain.
Oleh sebab itu, beberapa Mokole yang besar di Tanah Mori itu mengadakan musyawarah untuk mencari dan menentukan seorang raja sebagai Raja Tanah Mori, agar dapat mempersatukan suku-suku di Tanah Mori itu.
Setelah ada permufakatan dari beberapa Mokole yang besar itu maka ditulislah dua orang Penghulu (Penghulu disebut dengan gelar Mokolempalili) yangbernama: Tande Rumba-rumba dan Rarahake, untuk menghadap Datuk Palopo, guna menyampaikan dan membicarakan maksud-maksud tersebut di atas, serta mengadakan musyawarah bersama Datuk Palopo pada suatu saat yangd imufakati bersama oleh para Mokolempalili.
Pada suatu ketika, diadakanlah suatu pertemuan antara Mokolempalili-mokolempalili dengan Datuk Palopo. Dan sebagai hasil musyawarah, Datuk Palopo mengatakan, “Baiklah, ambillah saudara-saudara saya, Sungkawang dengan saudaranya yang bertempat tinggal di Desa Sokoiye, dekat danau Matane dan Pilewiti. Kemudian bawalah mereka ke negeri kamu di Tanah Mori”
Ketika mereka sedang dalam perjalanan melewati siran tanah atau tanah perbatasan antara Palopo dan Tanah Mori, mereka mendengar suara burung berbunyi, “Meiki meiko, meiko – meiki”. Bunyi burung itu diartikan oleh mereka bahwa tanah Meiki (nama sebuah desa) ini baik ditempati oleh seorang Mokolempalili. Oleh sebab itu, maka saudara dari Sungkawawo Sungkawang, ditempatkan di Tanah Meiki untuk menjadi “Karua” (Karua ialah gelar sebagai Mokolempalili).
Sedangkan Sungkawawo dan Pilewiti masih meneruskan perjalanan sampai di Tanah Mata Wundula; karena telah dimufakati oleh para Mokolempalili bahwa Sungkawawo dijadikan raja Mori, yang berkedudukan di Tanah Mata Wundula.
Selanjutnya, Pilewiti meneruskan perjalanan. Karena demikian lama menempuh perjalanan yang begitu jauh, maka Pilewiti merasa sangat lelah lalu berhenti pada suatu tempat dan berkata,”Yaku tojomo”, artinya, “Saya sudah lelah”. Oleh karena itu, maka tanah tempat perhentian Pilewiti dinamakan Tanah Tojo dan Pilewiti lah yang menjadi raja di Tanah Tojo. (Berdasarkan cerita Raja Pileweti sebagai Raja Tanah Tojo, maka tanah pesisir Timur dari Kabupaten Poso menjadi satu kecamatan yang dinamakan Kecamatan Tojo). Semula Tanah Tojo itu menjadi termasuk wilayah Kerajaan Tanah Mori danse belumnya menjadi bagian wilayah Kerajaan Luwu di bawah perintah Datuk Palopo.
Setelah tanah Mori mempunyai seorang raja tertentu maka diaturlah pembagian wilayah pemerintahan tiap-tiap Mokole, yang dikepalai oleh Cara Mokolempalili, sehingga dengan mudah pula diatur penyelesaian Upeti atau Pajak kepada Raja Mori dan lain-lain. Dengan demikian maka tiap Mokolempalili pada setiap tahun membawa Upeti kepada Raja Sungkawawo. Dari beberapa Mokolempalili, antara lain Mokolempalili dari Moleo’a membawa upeti kepada raja berupa satu bungkus beras putih yang dibungkus dengan pelepah pinang yang dalam bahasa mereka disebut “bungkusi” dan satu bungkus kecil atau satu botol saguer pahit yang disebut dalam bahasa Mori “Tutubaru’. Demikianlah berlaku setiap tahunnya. Pada waktu itu kehidupan rakyat Moriaman dan tentram di bawah pemerintahan Raja induk Mori Sungkawawo.
Kemudian dengan memperhatikan kehidupan rakyat yang semakin meningkat dan urusan-urusan atau kepentingan rakyat yang semakin banyak, terutama urusan keamanan, maka raja melantik seorang yang bergelar Bonto yang tugasnya sebagai penghubung antara raja dengan para Mokolempalili di TanahMori.
Setelah Raja Mori yang bernama Sungkawawo mangkat, maka ia diganti kanputra Raja Sungkawawo yang bernama MARUNDUH.
Di dalam istana raja ada dua orang kepercayaan Raja yang bernama Tanki dan Tapo, sebagai pembantu Raja dalam urusan-urusan pribadi Raja dengan tiap-tiap Mokole, yang biasanya diutus ke Mokole di Tanah Mori. Tetapi lama kelamaan, kedua orang kepercayaan Raja itu banyak melakukan perbuatan yang melanggar hukum di Desa Meleoa’, sehingga banyak rakyat keberatan dengan Mokolempalili Meleoa’ yang tinggal di Desa Endemburate. Maka Mokolempalili di Moleoa’ memutuskan bahwa Tanki dan Tapo harus dibunuh.
Putusan pembunuhan Tanki dan Tapo telah dilaksanakan. Dengan kematian dua orang tersebut, maka terjadilah perselisihan besar antara Raja dengan Mokolempalili Moleoa’ selama 8 (delapan) tahun sampai menjelang datangnya Belanda di Tanah Mori.
Dalam masa perselisihan besar antara Raja Mori Marunduh dengan Mokolempalili itu, maka pernah terjadi peristiwa perebutan kekuasaan Raja Marunduh oleh salah satu Mokolempalili yang dipimpin oleh seorang wanita cantik yang bernama Moleono bersama dengan beberapa orang Mokolempalili pengikut. Moleono adalah satu Mokolempalili yang cukup berwibawa dalamlingkungan beberapa Mokolempalili lainnya di Tanah Mori.Moleono yang didukung oleh beberapa Mokolempalili sebagai pengikutnya,senantiasa berusaha menjatuhkan Marunduh sebagai Raja Mori.
Pada suatu saat, Moleono bersama pengikut-pengikutnya menggunakan kesempatan dengan cara membujuk beberapa Mokolempalili serta rakyatPetasia, supaya jangan lagi tunduk kepada Raja Marunduh, melainkan harustunduk dan mengikuti Moleono yang bertekad menjadi Raja Mori. Beberapa Mokolempalili telah menyetujui keinginan Moleono dan mengikuti keinginan Moleono untuk menggantikan Marunduh sebagai raja Mori.
Pada suatu saat, Moleono mulai mengatur siasat dengan memerintahkan kepada beberapa Mokolempalili, agar lesung-lesung tempat menumbuk padi kepunyaan RajaMarunduh diisi dengan kotoran kerbau. Beberapa Mokolempalili dengan segera melaksanakan perintah Moleono,sehingga hampir semua lesung kepunyaan Raja Marunduh berisi kotorankerbau. Tetapi pada saat itu Raja Marunduh belum berbuat apa-apa, selainmengatur siasat bersama beberapa Mokolempalili pendukungnya. Terlebihdahulu Raja Marunduh berusaha memperkuat benteng pada istananya denganbantuan beberapa Mokolempalili yang tetap setia.
Maksud Raja Marunduh untuk memperkuat benteng istananya itu, adalah untuk memperkuat pertahanannya untuk menghadapi perlawanan akan dilakukan olehMoleono dengan pengikut-pengikutnya.
Di samping melancarkan propaganda, Moleono adalah wanita cantik yangmemiliki banyak ilmu gaib yang membuat ia berwibawa di kalangan rakyat dalamlingkungan beberapa Mokolempalili. Kegiatan propaganda dan siasat-siasat serta usaha-usaha dari pihak Moleono, sebagian dapat dikatakan berhasil antara lain dengan banyaknya rakyat dalamlingkungan beberapa Mokolempalfli telah membawa upeti kepada Moleono. Rupanya semakin bertambah banyak rakyat yang takluk kepada Moleono. Dengan menggunakan kekuatan ilmu gaib serta dengan kecakapan dankelihaiannya, Moleono dapat membingungkan orang lain dengan cara menipupandangan mereka, sehingga dengan mudah orang-orang menjadi teperdayadan merasa takut kepada Moleono.Sekali peristiwa, Moleono menunjukkan kelihaiannya, yakni memasukan beberapa ekor kucing ke dalam sebuah keranjang besar, lalu digantungnyabeberapa keranjang yang berisi beberapa ekor kucing itu di atas loteng rumah.Selain itu, ditangkapnya kunang-kunang banyak-banyak, lalu ditampungnyapada suatu kelambu yang sangat tipis, agar orang-orang yang melihat diwaktumalam bisa terheran.
Dengan bunyi kucing-kucing dalam keranjang besar yangdigantung di loteng, ditambah pula dengan cahaya kunang-kunang dalamkelambu di waktu malam, maka rakyat yang masih primitif pada zaman dahulukala itu, menjadi teperdaya bercampur takut, sehingga mereka mengakui bahwaMoleono patut disembah sebagai raja. Moleono dengan rambutnya yang sangat paniang itu, selalu berdaya upaya agar para Mokolempalili pengikut Raja Marunduh menjadi terpikat dan teperdaya,
sehingga dengan mudah dikuasai agar dengan mudah pula Moleonomenjalankan siasatnya untuk membunuh Raja Marunduh. Dan jika berhasil, maka Moleonolah yang akan menggantikannya. Tetapi Moleono belummengetahui bahwa masih banyak Mokolempalili yang tidak setuju jika Moleonomenjadi Raja Mori, karena masih banyak Mokolempalili yang memihak Marunduh sehingga Marunduh merasa lebih kuat daripada Moleono.
Suatu ketika, ada seorang pemuda yang gagah perkasa, bernama Titi yangberasal dari Mokole Moleoa’.Titi adalah pendukung utama Marunduh; Titi berusaha mempertahankan danmembela Raja Marunduh dari serangan dan tipu daya Moleono yang hendak menggulingkan Marunduh sebagai Raja Mori. Oleh karena itu Titi berdaya upaya-sampai berhasil membunuh Moleono. Suatuketika, Titi mengetahui Moleono, wanita cantik itu, jatuh cinta kepadanya. Titiberpikir dan memperhitungkan, bahwa kalau benar Moleono mencintai Titi, makaTiti akan mudah menggunakan kesempatan untuk memikat dan menjalankansiasat hingga berhasil membunuh Moleono. Suatu ketika, sebelum Titi pergi menemui Moleono, terlebih dahulu Titi pergimenemui Raja Marunduh untuk mempelajari situasi dan hal ihwal pihak Moleonobersama pengikut-pengikutnya, serta untuk mengatur siasat.Dalam pembicaraun bersama Raja Marunduh, Titi berkata bahwa ia akanberangkat dengan membawa seorang temannya yang berjiwa kesatria bernamaTondolabu; dengan membawa senjata atau senapan yang dinamakanBanggobeno dan untuk menguji kekuatan Moleono, ia akan meletuskan senapanBanggobene itu satu kali, dan kalau benar bahwa Moleono adalah dewa, makasenjata itu setelah meletus akan menjadi hancur; tetapi kalau senjata itu tidakhancur, maka berarti Moleono bukan seorang dewa dan Titi akan pergimembunuh Moleono.
Titi seorang pemuda yang gagah perkasa, dihadapan Raja Marunduh telahmenunjukkan sikap yang bersemangat dan jiwa yang berani meneruskan tekadserta daya juang pantang mundur menghadapi kekuatan Moleono bersamapengikut-pengikutnya. Sebejum berangkat, Titi terlebih dahulu mempersiapkandiri bersama temannya Tondolabu. Titi menguji senjatanya dengan mencobameletuskan satu kali, ternyata senjata Banggobene itu tetap seperti biasa. Laluberangkatlah Titi dengan Tondolabu menuju tempat di mana Moleono beradabersama pengikut-pengikutnya.Tatkala Titi bersama Tondolabu telah sampai di dekat rumah Moleono, Titidengan segera memerintahkan kepada Tondolabu supaya dengan cepat naik keloteng rumah Moleono untuk membunuh kucing-kucing dalam keranjang yangtergantun di loteng dan melepaskan semua kunang-kunang yang terkurungdalam kelambu, sedangkan Titi sendiri langsung masuk menemui Moleono. Setibanya dalam rumah Moleono, Titi disambut dan diterima oleh Moleonodengan ramah sekali, karena Moleono memang jatuh cinta kepada pemuda Titi.
Sebagaimana adat kebiasaan dalam menyambut tamu, pertama-tama tamudisambut dengan suguhan sirih dalam dulang kecil. Sementara makan sirih,kesempatan ini dipergunakan oleh Titi, dengan cepat dan dengan cekatan Titilangsung memegang kuat-kuat rambut Moleono yang panjang itu, laludipancungnya Moleono hingga tidak berdaya. Dan pada saat itu juga kucing-kucing dan kunang-kunang telah dilepaskan serta dibunuh Tondolabu.
Seketika itu juga, Titi bersama temannya, Tandolabu, segera pergi kembali keistana Raja, Mori, Marunduh. Setelah Titi bersama Tondolabu tiba denganselamat di tempat istana Raja Mori, Marunduh, mereka dengan segera pergimengeluarkan semua kotoran kerbau yang berada dalam lesung-lesungkepunyaan Raja Marunduh, sampai bersih lesung-lesung itu sebagaimanakeadaannya semula.Dengan demikian,
Titi berhasil menggagalkan usaha Moleono kekuasaan RajaMori Marunduh, sehingga kekuasaan Marunduh sebagai Raja Mori, tetap dengan utuhnya.

Peperangan raja Mori Marunduh Melawan Tentara Kompeni Belanda.
Beberapasaat kemudian, Kompeni Belanda telah masuk ke daerah Poso dan menjelajahiwilayah Daerah Poso sampai di wilayah Tanah Mori.Pada suatu ketika, datanglah ke Tanah Mori Tuan Nayoan bersama-samadengan dua regu tentara Kompeni Belanda yang dipimpin oleh seorang Letnansebagai Komandan, yang bertolak dari Poso. Rombongan Tuan Nayoanbersama Letnan Belanda itu, setelah tiba di salah satu tempat Mokelempalili diTanah Mori, maka mereka mengajak seorang Mokolempalili bernama PapaLantiuna untuk mengadakan pertemuan dengan Raja Mori, Marunduh, yang berkedudukan di wilayah Tanah Mori Bawah yang disebut Petasia, yakni desa Mata Fundula.
Dalam pertemuan itu, Tuan Nayoan mengingatkan supaya Marunduh dan para Mokolempalili jangan mengadakan perlawanan terhadap Kompeni Belanda, karena Belanda tidak bermaksud membunuh orang, tetapi akan memberikan perlindungan kepada rakyat demi kelangsungan hidup mereka dan karena itu, janganlah takut kepada Kompeni Belanda.
Tuan Nayoan mengajak Papa Lantiuna dan tampaknya Mokolempalili Milea’menuruti dan menyetujui maksud Tuan Nayoan bersama Kompeni Belandauntuk membicarakan hal perdamaian dengan Raja Mori, Marunduh. Setelah mereka bertemu, semula nampaknya Raja Marunduh agak takut karena merasa ragu akan maksud mereka. Tetapi Tuan Nayoan dan Papa Lantiuna menjelaskan maksud mereka kepada raja Mori sehingga Raja Marunduh akhirnya dapat memahami tanpa rasa takut lagi. Di samping itu Tuan Nayoan bersama Tentara Kompeni Belanda yang dipimpin oleh Tuan Letnan, ingin sekali melihat Permaisuri Raja Marunduh, karena selama tujuh hari mereka tinggal di Mata Fundula tidak pernah melihat Permaisuri Raja Marunduh. Sehingga TuanNayoan dan Tuan Letnan meminta kepada Raja Marunduh memanggil permaisurinya.
Ketika Permaisuri Raja yang bernama Jelaina, keluar dan bertemu dengan Tuan Nayoan bersama Tuan Letnan, mereka saling berkenalan dan bedabat tangan. Raja Mori, tatkala melihat permaisurinya berjabatan tangan dengan Tuan Letnan. dan Tuan Nayoan nampak merasa tidak senang. Raja Mori memang merasa tidak senang melihat permaisurinya dipegang-pegang orang pada saat berjabatan tangan, kecuali hanya sekedar berjabatan tangan saja. Di samping itu raja Mori merasa curiga dan ragu, karena mungkin kesempatan berjabatan tangan itu mereka gunakan sebagai siasat dengan maksud-maksud lain. Mungkin memancing perasaan Raja atau mungkin pula sebagai siasat untuk melemahkan sifat keras dari Raja Mori terhadap mereka melalui permaisuri.
Karena Permaisuri telah berkenalan dengan mereka sehingga Permaisuri dapat mempengaruhi Raja Marunduh agar Raja Marunduh tidak menentang tentara Kompeni Belanda. Itulah sebabnya Raja Marunduh semakin merasa tidak senang bilamana berjumpa dengan Tentara Kompeni Belanda; dan pula sebabnya, sehingga Raja Marunduh tidak bersedia melanjutkan pertemuan dengan Tuan Nayoan Tuan Letnan yang bermaksud mengadakan perdamaian.
Dengan begitu berarti Raja Marunduh tidak bersedia mengadakan perdamaian dengan Tentara Kompeni Belanda.
Dalam usaha mengatasi keadaan yang gawat itu, segera Raja Marunduh mengadakan rapat dengan beberapa Mokolempalili yang kuat. Dalam hal iniPapa Lantiuna, termasuk kelompok Mokolempalili Moleoa Keputusan rapatdengan tegas dinyatakan oleh Raja Marunduh, “Bahwa Tentara Kompeni Belanda harus dibunuh sampai habis dari tanah Mori”. Keputusan RajaMarunduh yang demikian tegas itu disetujui oleh para Mokolempalili.
Dalam usaha pelaksanaan perlawanan terhadap Tentara Kompeni Belanda, maka Raja Mori Marunduh bersama para Mokolempalili yang kuat, mulaimengatur posisi. Beberapa Mokolempalili memperhatikan bahwa sebagianTentara Kompeni Belanda masih ada di Mata Fundula dan sebagian lagi kembalike Moleoa. Beberapa saat kemudian, Raja Marunduh memerintahkan PapaLantiuna supaya tentara Kompeni Belanda yang menuju ke Moleoa harusdibunuh. Dan Tentara Belanda yang tinggal di Mata fundula, Raja Marunduh yang akan membunuhnya.
Selanjutnya Raja Marunduh memerintahkan kepada para Mokolempalili, bahwa perlawanan harus dilaksanakan dengan serentak, pada hari yang sama, baik yang ada di Mata Fundula, di Moleoa serta yang ada di Petasia. Akan tetapi sebelum Tentara Kompeni Belanda kembali ke Moleoa, maka Papa Lantiuna bersama pengikutnya seorang juru bahasa laki-laki bernama Maradi terlebih dahulu pergi ke Kanta, tanpa melalui jalan ke jurusan Moleoa’.
Papa Lantiuna bersama pengikut-pengikutnya tinggal di Kanta selama beberapa hari. KemudianTuan Letnan bersama tentaranya menyusul ke Moleoa sedangkan Tuan Nayoantelah kembali ke Poso.
Tetapi rombongan Papa Lantiuna merasa tidak senang tinggal di Kanta, sehingga dalam waktu dekat mereka mencari tempat lain yang lebih baik. Mereka pergi ke Ranoitole dekat desa Korontaduha, yang kira-kira tiga kilometer jaraknya dari desa Tomata. Di sanalah mereka membuat asrama dan di sanalah Papa Lantiuna mengatur posisi perlawanan untuk melaksanakan perintah RajaMarunduh akan melakukan pembunuhan terhadap tentara Kompeni Belanda. Papa Lantiuna bersama pengikutnya mengatur posisi perlawanan terhadap Tentara Belanda bertempat di Ranoitole, sebagai berikut:
1.Papa Lantiuna memerintahkan kepada Rakyat, terutama pengikutnya,supaya mengumpulkan semua senjata pedang di suatu tempat tertentu.
2.Supaya semua orang kuat tiap Mokolempalili terutama yang ada diMoleoa, segera berkumpul pada satu tempat di Ranoitole untukmendengarkan perintah-perintah selanjutnya.
3.Supaya tiap pasukan, harus ada satu sampai dua orang yang terkuatsebagai pengawal dengan membawa senjata pedang tajam.
4.Di samping rakyat sibuk membersihkan perkampungan mereka, supaya makanan harus diatur dengan sebaik-baiknya serta memotong babi sebagai persediaan makanan tersebut mereka selama mengadakan perlawanan di Ranoitole.
Beberapa saat kemudian, Papa Lantiuna pergi mematamatai keadaan Tentara Belanda; ternyata Tentara Belanda dalam keadaan lengah dan tidak mempunyai persangkaan apa-apa pada rakyat Mori .Papa Lantiuna dengan segera mempergunakan kesempatan itu untuk mempersiapkan pasukannya lengkap dengan senjata, kemudian menyatakan komando serentak menyerang sekaligus membunuh Tentara Kompeni Belanda sampai habis semuanya. Pada saat berlangsungnya serangan perlawanan terhadap Tentara Kompeni Belanda, juru bahasa yang bernama Maradi melarikan diri sehingga ditangkap dan kemudian ditawan oleh Belanda di dekat Londi wilayah Kolonadale. Juru bahasa yang bernama Maradi itu tidak dibunuh oleh Tentara Belanda.
Kira-kira sebulan kemudian, Tentara Belanda datang ke Kolonadale untuk melakukan serangan pembalasan memerangi Raja Marunduh yang gigih mengadakan perlawanan di Fulanderi (Fulanderi terletak kira-kira sepululi kilometer jauhnyadari Desa Kolaka di wilayah Kolonadale yang dinamakan Tanah Mori Bawah, yang sekarang dinamakan Kecamatan Petasia).
Pada pertempuran di Fulanderi, banyak Tentara Kompeni Belanda yang tewas,sedangkan Raja Mori Marunduh sendiri selamat.Menurut cerita beberapa orang tua yang sekarang masih hidup dan berada diKecamatan Mori Atas, bahwa Raja Marunduh mempunyai kura-kura emas yangkecil sebagai azimatnya.
Akhirnya Tentara Kompeni Belanda mengetahui rahasia kura-kura emas sebagaiazimat Raja Marunduh itu, maka Tentara Belanda mencari akal bagaimanacaranya untuk dapat mengalahkan Raja Marunduh.Pada suatu ketika, Tentara Belanda menemukan alat dan cara yang dapatmengalahkan kekuatan azimat Raja Marunduh Tentara Belanda mempersiapkanpeluru emas sebanyak-banyaknya serta mempersiapkan beberapa pasukankhusus pembawa senjata yang berisi peluru emas yang dikerahkan untukmenyerang dan menembak Raja Marundub. Dalam waktu yang singkat, tepatpertahanan Raja Marunduh pada salah satu bukit di Fulanderi telah dapatdiketahui dengan jelas oleh Tentara Belanda. Perlu dengan segera diatur pengepungan dan pasukan khusus dengan senjata berpeluru emas langsungdikerahkan menuju tempat pertahanan Raja Marunduh. Pada saat pasukankhusus Tentara Belanda melihat dengan jelas Raja Marunduh di tempatpertahanannya, maka pasukan khusus segera menggempur dan menembaklangsung Raja Marunduh.
Akhirnya Raja Marunduh pun telah tewas karenasasaran peluru emas. Di Fulanderi itulah, tempat Raja Marundub tewas denganseorang kemenakannya yang bernama Lafolio.Setelah Raja Marunduh tewas, maka datanglah ke Fulanderi, Tuan Nayoanbersama-sama dengan Tuan Letnan Tentara Belanda mencari Papa Lantiuna diTobumpada, karena di situlah tempat Papa Lantiuna melarikan diri sewaktuTentara Belanda menggempur Fulanderi; yang berarti Papa Lantiuna tidak turutserta mengikuti Raja Marunduh pada tempat pertahanan Raja Marunduh diFulanderi, pada saat penggempuran terakhir dari Tentara Belanda.Sebelum Tuan Letnan menemukan Papa Lantiuna, maka terlebih dahulu TuanNayoan menemui Papa Lantiuna, dengan maksud memberitahukan tentang apa-apa yang harus dikerjakan kalau Tuan Letnan Tentara Belanda telahmenemukan Papa Lantiuna di Tobumpada.Tatkala Tuan Letnan Tentara Belanda telah tiba diTobumpada, maka PapaLantiuna dengan cepat menyambut dan memeluk kaki Tuan Letnan serayamencium ujung sepatu Tuan Letnan dengan ucapan minta ampun.Kemudian tibalah saatnya Papa Lantiuna diperiksa oleh Tuan Letnan yangdidampingi oleh Tuan Nayoan. Pada saat dilakukan pemeriksaan, maka TuanLetnan mengajukan beberapa pertanyaan, sebagai berikut1.Apa sebabnya engkau membunuh tentara Belanda?2.Apakah engkau mampu mengumpulkan tulang betulang Tentara Belandayang telah dibunuh itu?3.Apakah engkau mampu mengumpulkan semua senjata Tentara Belandayang telah terbunuh itu?Kemudian Papa Lantiuna menjawab sebagai berikut.
1.Saya membunuh Tentara Belanda atas perintah Raja Marunduh. Karena Marunduh maka saya sendiri yang akan dibunuh.
2.Saya sanggup mengumpulkan semua tulang belulang Tentara Belandayang telah terbunuh.
3.Saya mengaku, bahwa saya sanggup mengumpulkan semua senjataTentara Belanda yang telah terbunuh itu.
Dengan jawaban dari Papa Lantiuna itu, maka Tuan Letnan berkata, ‘Hiduplahengkau!”. Dan pada saat itu juga, Papa Lantiuna telah menunjukkankesanggupan atau kemampuannya dalam memenuhi perintah Tuan LetnanTentara Belanda.Papa Lantiuna adalah salah seorang Mokolempalili di Tanah Mori yang besar pengaruh dan wibawanya dalam lingkungan rakyat di Tanah Mori. Oleh karenaitu orang-orang atau sebagian besar rakyat di Tanah Mori, taat melaksanakanperintah-perintah dari Papa Lantiuna unluk mengumpulkan tulang belulang sertamengembalikan senjata-senjata tentara Belanda yang telah tewas itu.Selanjutnya Tuan Letnan memerintahkan kepada Papa Lantiuna agar tiap orangsebagai penanggung yang kuat, harus membayar dua rupiah setengah sebagaidenda. Kemudian Tuan Letnan memerintahkan pula kepada Papa Lantiuna agar segera diatur rakyat dari tiap-tiap suku di Tanah Mori untuk membuka kembaliperkampungan-perkampungan, dimulai dari Kolonadale dan seterusnya dalamlingkungan Tanah Mori.Selanjutnya Tuan Letnan memerintahkan lagi kepada Papa Lantiuna agar tulangbelulang atau tengkorak Tentara Belanda yang telah tewas dalam pertempuran,segera dibawa oleh rakyat Suku Mori yang akan membuka perkampungan diKolonadale dan menguburkannya kembali di Kolonadale.Sampai sekarang ini, kuburan tulang belulang dan tengkorak Tentara Belandaserta merta orang-orang suku Mori yang telah tewas dalam pertempuran, masihada tetap terpelihara dengan baik di Kolonadale.Selain itu Papa Lantiuna mendapat perintah lagi agar rakyat Mori melaksanakanpembuatan jalan dan pembukaan perkampungan secara teratur serta mengatur perpindahan penduduk dari tiap-tiap suku di Tanah Mori itu ke kampung-kampung atau desa-desa yang baru dibuka juga supaya rakyat hidup membukapersawahan untuk menjamin kelangsungan hidup mereka bersama keluarganya.Papa Lantiuna berhasil melaksanakan dan membuktikan kemampuannyasebagai seorang pemimpin, seorang Mokolempalili yang sangat besar pengaruhdan wibawanya dalam lingkungan rakyat di seluruh wilayah Tanah Mori.Mengenai pengantaran perpindahan penduduk dari tiap-tiap suku di Tanah Mori,Papa Lantiuna mengatumya sebagai berikut:
1.Suku Moleoa’ yang tinggal di gunung-gunung seperti dari Sungke Lembadipindahkan pada tanah rata di Desa atau Kampung Kasingoli danKorokonta
2.Suku dari Tavaangoli dipindahkan pada desa atau Kampung TanahSumpu dan di Korolemo
3.Suku dari Desa Lemborori dipindahkan di desa Tepaku
4.Suku dari Desa Tanjongkuni dipindahkan di Desa Londi
5.Suku dari Salemboi dipindahkan di Desa Taendeh
6.Suku dari Desa Wana dipindahkan di Desa Ensah
7.Suku dari Ndointobu dipindahkan di Desa Kolaka
8.Suku dari Desa Endemborate dipindahkan di Desa Tomata (Tomatasebagai tempat kedudukan ibu kota wilayah Kecamatan Tanah Mori Atassekarang ini)
9.Suku-suku lainnya diperintahkan mencari dan mengatur tempatperkampungan masing-masing yang mereka senangi keadaan alamnya.
Dengan perpindahan Suku-suku di Tanah Mori sebagai mana disebut diatas,maka terbentuklah organisasi Pemerintahan Kesatuan Desa dari suku-sukutersebut, menjadi satu nama suku, yaitu Suku Mori dan satu nama kesatuandaerah, yakni Tanah Mori.Perlu diketahui, bahwa Tanah Mori adalah daerah yang terluas wilayahnyadalam lingkungan Kabupaten Poso, yang sekarang ini terbagi menjadi tigawilayah Kabupaten, yakni:
1.Wilayah Kecamatan Mori Atas, ibu kota Tomata
2.Wilayah Kecamatan Petasia, ibu kota Kolonadale
3.Wilayah Kecainatan Lembo, ibu kotanya Beteleme; yang dikenal puladengan nama sebelumnya: Tanah Mori Bawah.

Minggu, 04 Februari 2018

Modui masal

Modui masal yang di selenggarakan pada bulan desember 2017, bertepatan dengan acara reuni akbar masyarakat desa moleono, berlangsung meriah dan sangat kental dengan rasa kekeluargaan yang tinggi ini sukses di selenggarakan.
Seluruh masyarakat moleono dari penjuru indonesia ikut berpartisipasi dan menikmati nikmatnya dinui atau yang orang sulawesi selatan sebut dengan kapurung. Ini adalah momen yang sangat langka karena di selenggarakan hanya 5 tahun sekali dalam acara Reuni Akbar Mia Moleono. Sederhana tapi menyimpan makna yang begitu dalam buat warga moleono yang diharapakan bisa di lakukan dari generasi ke generasi berikutnya. Dinui yang terbuat dari sagu adalah suatu menu makanan yang sangat digemari masyarakat suku mori, akan terasa lebih nikmat jika disajikan dengan kuah asam (lewe olo), dan ikan seperti, ikan gabus, poanda, mejalaya, apalagi mekupi (black bass).
Acara ini tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit dan tenaga yang banyak, tapi berkat kerjasama antar warga yang sangat baik sehingga acara ini bisa berjalan dengan baik.
Semoga acara ini bisa terus dilestarikan demi mempererat tali silahturahmi.




Permandian Kiesie

Permandian Kiesie adalah salah satu tempat permandian di Desa Moleono, kec. Petasia Barat, kab. Morowali Utara yang belum banyak di ketahui oleh banyak orang, bahkan oleh masyarakat morowali utara sendiri. Kiesie atau kiosie yang sampai sekarang ini saya sendiri saja masih agak bingung namanya kiesie kah? atau kiosie?, mungkin saya harus tanya sama nenekku apakah nama betulnya, tapi yang pasti kiesie memiliki air yang sejuk dan terdapat sebuah goa yang sangat bersejarah dan memiliki barang peninggalan seperti guci, piring, gelas, dll. tapi sayang seribu sayang, barang-barang peniggalan tersebut sudah mulai hilang.
Untuk akses ke tempat ini memang belum ada akses darat, hanya bisa menggunakan perahu, yah sekitar 10 menit kalo ngana ba dayung! kalo ngana pake katinting, paling 5 menit dari desa moleono.
Saya berharap suatu saat nanti tempat ini bisa di kelola untuk menjadi objek pariwisata. Kan lumayan bisa menambah pendapatan warga dengan cara PeJek (Perahu oJek) buat pengunjung yang mau datang ke kiesie hehehe..
Salam bloggers.



Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Tepo Aso Aroa.. Salam wita mori..

SEJARAH KOTA PALU

Asal usul nama Istana Kerajaan Palu Asal usul nama kota Palu adalah kata Topalu'e yang artinya Tanah yang terangkat karena...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

About Me

authorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Breaking

Random Posts

Recent in Sports

Header Ads

Seo Services

Recent